REPUBLIKA.CO.ID,TEL AVIV — Sudah lebih dari dua tahun, operasi bawah tanah Israel telah berjalan yang menjadi salah satu pilar utama dari strategi genosida di Jalur Gaza. Pembentukan kelompok-kelompok bersenjata lokal Palestina yang dirancang untuk mampu menantang Hamas, mengelola wilayah, dan pada akhirnya berfungsi sebagai kekuatan pemerintahan alternatif di dalam wilayah kantong tersebut.
Sebuah investigasi yang diterbitkan oleh media Israel, Zman Israel, mulai mempertanyakan apakah proyek ambisius tersebut telah gagal? Keraguan tersebut seiring dengan kritik dari sejumlah analis, mantan pejabat intelijen, dan pakar keamanan Israel sendiri mengenai proyek rahasia tersebut.
Alih-alih menjadi alternatif yang cukup layak dari Hamas, milisi-milisi ini justru terpecah-belah, terisolasi secara geografis, sangat bergantung pada perlindungan Israel. Sebagian besar kelompok tersebut bahkan sama sekali tidak memiliki legitimasi publik, tulis Palestine Chronicle.
Israel juga mengkhawatirkan pendapat para pakar yang memperingatkan bahwa pasokan senjata, pelatihan, dan kemampuan militer yang diberikan kepada kelompok-kelompok proksi ini pada akhirnya dapat berbalik arah dan menyerang pihak penjajah itu sendiri.
Laporan tersebut mengungkap rasa frustrasi yang kian mendalam di kalangan lingkaran pembuat kebijakan Israel, seiring upaya mereka untuk merekayasa realitas politik baru di Gaza yang terus-menerus menemui kegagalan.
Dibangun dalam keheningan
Menurut laporan Zman Israel, Israel telah menghabiskan setahun terakhir untuk memasok kelompok-kelompok bersenjata anti-Hamas dengan dukungan yang sangat luas. Dukungan ini mencakup persenjataan, informasi intelijen, pasokan makanan, bantuan logistik, dukungan udara, hingga perawatan medis bagi para milisi yang terluka di dalam wilayah Israel.
Investigasi tersebut menunjukkan bukti-bukti kuat yang mengindikasikan beberapa kelompok milisi kini menerima peralatan militer yang semakin canggih.
Pada Mei lalu, salah satu kelompok milisi merilis rekaman video yang memperlihatkan anggotanya tengah mengoperasikan apa yang tampak seperti sebuah pesawat nirawak (drone) berskala militer ukuran besar. Hal ini langsung memicu kekhawatiran baru di kalangan pengamat domestik Israel mengenai sejauh mana tingkat dukungan yang sebenarnya diberikan.
Terlepas dari besarnya sumber daya yang telah diinvestasikan, sebagian besar dari proyek ini tetap diselimuti kerahasiaan yang rapat. Otoritas Israel berulang kali menolak menjawab pertanyaan mengenai struktur organisasi, sumber pendanaan, tujuan operasional, maupun peran jangka panjang milisi-milisi tersebut di Gaza.
Militer Israel menolak berkomentar mengenai apakah peralatan canggih dalam video milisi tersebut berasal dari pasokan mereka. Setali tiga uang, Kantor Perdana Menteri dan Kementerian Pertahanan Israel juga menghindari untuk memberikan jawaban yang substantif. Ketiadaan transparansi ini akhirnya menjadi salah satu titik kritik utama yang dilontarkan oleh para pakar Israel sendiri.