Sabtu, 11 Juli 2026 - 18:18 WIB

Jakarta, VIVA – Anggota Badan Kerja Sama Antar-Parlemen (BKSAP) DPR RI, Shanty Alda Nathalia, menilai Indonesia perlu mempercepat pengembangan teknologi waste to energy (WtE) sebagai salah satu solusi strategis untuk mengatasi persoalan sampah nasional sekaligus mendukung transisi menuju ekonomi sirkular dan ketahanan energi.

Baca Juga

Menurut Shanty, peningkatan volume sampah yang terus terjadi di berbagai daerah tidak lagi dapat ditangani hanya melalui pendekatan konvensional berupa pengangkutan dan penimbunan di tempat pemrosesan akhir (TPA).

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dibutuhkan inovasi pengelolaan sampah yang mampu mengurangi timbunan sekaligus memberikan manfaat ekonomi melalui pemanfaatan energi.

Baca Juga

“Persoalan sampah tidak bisa lagi diselesaikan hanya dengan pendekatan pengangkutan dan penimbunan. Kita perlu mendorong pengembangan waste to energy sebagai salah satu solusi yang mampu mengurangi timbunan sampah sekaligus memberikan nilai tambah melalui pemanfaatan energi. Di sela-sela kunjungan kerja BKSAP DPR RI ke Surabaya, kami melihat praktik baik yang dapat menjadi lessons learned bagi daerah lain dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan,” ujar Shanty.

Ia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki karakteristik wilayah dan komposisi sampah yang beragam, sehingga pendekatan pengembangan waste to energy tidak dapat diseragamkan. Pemerintah daerah perlu diberikan ruang untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah.

Baca Juga

“Ke depan, Indonesia perlu terus mengeksplorasi dan mengembangkan berbagai teknologi waste to energy yang sesuai dengan karakteristik masing-masing daerah. Pilihannya sangat beragam, mulai dari teknologi yang menghasilkan listrik hingga teknologi yang dapat menghasilkan bahan bakar, antara lain melalui pirolisis (pyrolysis). Karena itu, setiap daerah perlu memiliki fleksibilitas untuk memilih teknologi yang paling sesuai dengan volume, komposisi sampah, kesiapan infrastruktur, serta aspek keekonomiannya agar implementasinya benar-benar efektif dan berkelanjutan,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Shanty menambahkan bahwa keberhasilan pengembangan waste to energy juga memerlukan dukungan kebijakan yang terintegrasi. Harmonisasi regulasi antar kementerian dan lembaga dinilai menjadi faktor penting untuk menciptakan kepastian hukum sekaligus meningkatkan kepercayaan investor dalam membangun fasilitas pengolahan sampah berbasis energi di Indonesia.

“Yang tidak kalah penting adalah harmonisasi regulasi lintas sektor agar pengembangan waste to energy memiliki kepastian hukum dan iklim investasi yang kondusif. Kepastian mengenai perizinan, standar teknologi, hingga pemanfaatan hasil pengolahan sampah akan menjadi faktor penting untuk mempercepat implementasi berbagai proyek waste to energy di Indonesia. Dengan dukungan regulasi yang kuat, sampah tidak lagi dipandang sebagai beban lingkungan, tetapi sebagai sumber daya yang dapat mendukung ekonomi sirkular, ketahanan energi, dan pembangunan berkelanjutan,” kata Shanty.

Halaman Selanjutnya

Melalui penguatan regulasi, adopsi teknologi yang tepat, serta kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, pengembangan waste to energy diharapkan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan sistem pengelolaan sampah nasional yang lebih modern, berkelanjutan, dan bernilai ekonomi.