Argentina vs Swiss: Adu tajam Messi dan disiplin

Minggu, 12 Juli 2026 06:12 WIB

Image Print

Pesepak bola Argentina menghadiri sesi latihan jelang pertandingan perempat final antara Argentina melawan Swiss di Piala Dunia FIFA 2026 di Kansas City, Amerika Serikat, Jumat (10/7/2026). ANTARA FOTO/Xinhua/Xiao Yijiu/agr

Jakarta (ANTARA) - Juara bertahan Argentina akan menghadapi ujian berat dari permainan disiplin Swiss pada babak perempat final Piala Dunia 2026 yang digelar di Stadion Arrowhead, Kansas City, Minggu (12/7) pagi WIB.

La Albiceleste memang lebih diunggulkan berkat kualitas individu serta ketajaman sang kapten, Lionel Messi. Namun, tim asuhan Lionel Scaloni ini dinilai belum sepenuhnya meyakinkan dalam dua pertandingan terakhir di fase gugur. Argentina harus bersusah payah melewati perpanjangan waktu untuk menyingkirkan Tanjung Verde 3-2 di babak 32 besar.

Bahkan pada babak 16 besar, mereka nyaris tersingkir setelah sempat tertinggal dua gol dari Mesir, sebelum akhirnya bangkit berkat gol Cristian Romero, Lionel Messi, dan Enzo Fernandez di 11 menit terakhir untuk membalikkan keadaan menjadi 3-2. Rentetan laga tersebut memperlihatkan mentalitas juara Argentina, sekaligus menjadi alarm waspada atas rapuhnya lini belakang mereka saat menghadapi serangan balik.

Ketergantungan Messi

Lionel Messi dipastikan tetap menjadi pusat permainan Argentina. Di usianya yang menginjak 39 tahun, ia masih tampil mematikan dengan koleksi delapan gol di turnamen ini—menyamai Kylian Mbappe di puncak daftar pencetak gol terbanyak—serta menggenapkan torehannya menjadi 21 gol sepanjang sejarah Piala Dunia.

Menjelang laga, Scaloni masih harus memutar otak untuk menentukan pendamping Messi di lini depan antara Julian Alvarez atau Lautaro Martinez yang sempat memberikan dampak instan dari bangku cadangan. Selain itu, lini tengah yang digawangi Rodrigo De Paul, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister, dan Leandro Paredes dituntut untuk lebih tenang dalam mengontrol ritme pertandingan demi meredam transisi cepat lawan.

Swiss percaya diri

Di kubu seberang, Swiss datang dengan kepercayaan diri meluap setelah sukses mencapai perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 72 tahun. Tim asuhan Murat Yakin ini melenggang ke babak delapan besar setelah menyingkirkan Kolombia lewat drama adu penalti 4-3 pasca-bermain imbang tanpa gol selama 120 menit.

Disiplin baja Manuel Akanji di sektor belakang, kepemimpinan Granit Xhaka di lini tengah, serta ketangguhan Gregor Kobel di bawah mistar gawang menjadi modal utama Swiss untuk meredam dominasi Argentina. Sayangnya, Swiss dipastikan pincang di lini serang setelah kehilangan Johan Manzambi akibat cedera lutut, padahal sang pemain telah menyumbang tiga gol dan dua assist sepanjang turnamen.

Laga ini sekaligus mengulang memori babak 16 besar Piala Dunia 2014, saat Argentina menang tipis 1-0 lewat gol Angel Di Maria di babak perpanjangan waktu. Menariknya, Lionel Messi, Granit Xhaka, dan Ricardo Rodriguez merupakan nama-nama veteran yang masih tersisa dari bentrokan 12 tahun silam tersebut.

Pemenang dari partai sengit ini dijadwalkan akan menantang pemenang laga antara Inggris dan Norwegia di babak semifinal yang akan berlangsung di Atlanta.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pratinjau Argentina vs Swiss: Adu tajam dan disiplin

Pewarta : Muhammad Ramdan
Editor: Yuniati Jannatun Naim
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.